0 produk di keranjang belanja Anda

Tidak ada produk di keranjang.

Wanita Nusantara Dalam Bingkai Keadilan Gender

Wanita Nusantara  Dalam Bingkai Keadilan Gender– Berbicara mengenai wanita akan banyak persepektif dalam mengartikannya ada yang menyebutnya sebagai perempuan, putri, istri ataupun ibu. Mereka merupakan manusia yang halus kulitnya, lemah sendi tulangnya dan agak berlainan bentuk dari susunan bentuk tubuh laki-laki. Tuhan menjadikan wanita agak berlainan bentuk susunan badannnya dan agak berlainan pula kekuatan  dan akal fikirannya dibandingkan dengan laki-laki. Perbedaan itu mengandung kepentingan dan hikmah yang tidak dapat disangkal oleh pria maupun wanita. Secara terminologi, wanita adalah kata yang umum digunakan untuk menggambarkan perempuan dewasa.

Berkaca dari sejarah bahwa kehebatan wanita nusantara sudah di contohkan oleh R.A Kartini, beliau adalah seorang tokoh Jawa Barat sekaligus sebagai  Pahlawan Nasional Indonesia. R.A Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Dalam bukunya yang berjudul “Door Duistermis tox Lich”, (Habis Gelap Terbitlah Terang) beliau menuliskan betapa besar keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zaman itu. Buku tersebut menjadi pendorong semangat para wanita Indonesia dalam memperjuangkan hak-hak nya. Ide-ide besar dari R.A Kartini telah mampu  menggerakan dan mengilhami perjuangan kaumya dari kebutuhan yang tidak di dasari masalalu. Dengan pengorbanan dan pengabdian yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi.

Didunia islam, ada juga wanita hebat yang dikenal sebagai sang sufi Rabi’ah Basri atau dikenal sebagai Robi’ah Al Adawiyah ia terkenal akan kezuhudannya dalam mencintai tuhan. Rabi’ah Al-Adawiyah dijuluki sebagai “The Mother of the Grand Master” atau Ibu Para Sufi Besar.

Kaitan Antara Kesetaraan Gender dengan Keadilan Gender

Kesetaraan gender memiliki kaitan dengan keadilan gender, keadilan gender merupakan suatu proses dan perlakuan adil terhadap laki-laki dan perempuan. Terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi baik terhadap laki-laki maupun perempuan. Berbicara soal ini akan menyeret kita terhadap permasalahan kemanusiaan dan sosial yang tidak bisa terlepas dari pola relasi pengambilan keputusan antara laki-laki dan perempuan. Patriarki istilah dalam dunia gender kalimat patriarki ini sudah tak asing lagi di dengar, patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti. Dalam domain keluarga, sosok yang disebut ayah memiliki otoritas terhadap perempuan, anak-anak dan harta benda. Lahirnya pemahaman patriarki ini lahir dari peran laki-laki dan perempuan dimasa silam, bahkan didunia islam kita memahami bahwa yang namanya perempuan itu di ciptakan dari sebagian tubuh laki-laki, dalam hukum syari’at bahwa kekhususan wanita dalam beribadah kepada tuhannya ini juga melahirkan ideologi patriarki. Namun faktor terbesar lahirnya ideologi patriarki adalah lahir dari kultur serta identifikasi dari perbedaan tubuh wanita itu sendiri.

Pembicaraan mengenai kesetaraan gender, akhir-akhir ini semakin hangat dalam perbincangkan mengenai kemajuan perkembangan kaum perempuan dengan kesetaraan dengan kaum pria. Kita ketahui bahwa dalam sejarah telah terjadi perlakuan yang tidak seimbang yang menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Peran peran yang dilakukan perempuan hanya berputar di ranah domestic, seperti dalam kosa kata “dapur, kasur,sumur”, sementara kaum laki-laki menguasai peran-peran penting dalam masyarakat. Dalam masyarakat ketika perempuan pulang tanpa asbab yang jelas di malam hari maka akan menjadi pertanyaan besar dan akan menjadi cibiran, dari situlah muncul ketidaksetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Perlakuan berbeda tersebut terjadi karena budaya yang tumbuh didalam masyarakat dari masa ke masa sehingga menjadi warisan bagi generasi berikutnya.

Akibat Dari Adanya Ketidak Setaraan Gender

Salah satu akibat dari ketidaksetaraan gender adalah marginalisasi, yang beranggapan bahwa perempuan merupakan makhluk lemah, lembut, halus. Sensitif dan sifat feminism lainnya membuatnya tidak memiliki kesempatan sama dengan laki-laki. Hak-haknya untuk di perlakukan sama dengan laki-laki di kesampingkan, bahkan tergusur dan tidak menjunjung rasa kemanusiaan. Perempuan dianggap warga kelas kedua.

Namun terlepas dari hal tersebut, jika kita tela’ah dalam konteks yang berbeada hal itu merupakan upaya dari masyrakat untuk menyadarkan wanita dalam hal kewajiban syari’at yaitu harus patuh pada seorang suami.

Keadlian gender merupakan upaya penyetaraan kaum wanita dalam mendapatkan hak-haknya, namun perlu di garis bawahi bahwa hak yang diperjuangkan disini adalah hak yang memiliki bobot nilai sosial bukan hak yang sudah di tentukan dalam syari’at beragama.

Semua agama pada dasarnya memuliakan manusia tanpa adanya hirarki. Dalam Islam wanita dan pria mempunyai derajat yang sama sebagai manusia dihadapan Allah SWT. Wanita diciptakan sebagai pasangan bagi laki-laki, yang wanita mempunyai fungsi untuk menyempurnakan peraturan-Nya yang dikehendaki-Nya, yaitu berlangsungnya keturunan bangsa manusia di muka bumi sampai waktu yang ditentukan. Hal ini telah termaktub dalam al-Qur’an dalam surah an-Nisa ayat 1.