0 produk di keranjang belanja Anda

Tidak ada produk di keranjang.

Posisi Tangan Saat Berdiri Shalat – Hanif Luthfi, Lc

Posisi Tangan Saat Berdiri Shalat Sobat BagiBuku, pada kesempatan ini kami akan memberikan buku-buku Shalat yang menarik dan buku yang banyak di cari. Pengertian shalat dari bahasa Arab As-sholah, sholat menurut Bahasa / Etimologi berarti Do‟a dan secara terminology/istilah, para ahli fiqh mengartikan secara lahir dan hakiki.

Segala puji benar-benar hanya bagi Allah. Kita memuji-Nya. Memohon-mohon pertolongan pada-Nya. Meminta petunjuk-Nya. Mengharapkan ampunan-Nya. Kita berlindung dengan-Nya dari segala keburukan diri kita dan dari kemaksiatan amal-amal kita. Siapa yang mendapatkan petunjuk- Nya, tidak akan ada yang menyesatkannya. Siapa yang disesatkan-Nya, tidak akan ada yang mampu menunjukinya. Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah curahkan kepada sang penyampai syariat, nabi besar Muhammad. Begitu juga kepada para keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Wa ba’du,

Pertanyaan seperti tadi sebenarnya punya konsekwensi cukup serius, itu sama artinya menuduh para ulama fiqih itu tidak mengikuti Nabi dalam shalatnya. Dengan logika sederhana, sebenarnya siapakah yang lebih mengetahui sifat shalat Nabi dan para shahabatnya? Apakah Imam Abu Hanifah (w. 150 H), Imam Malik bin Anas (w. 179 H) yang mereka hidup masih di abad ke-2 Hijriyyah dan mendapatkan hadits Nabi dari mulut para muhaddits, atau ulama yang hidup sekarang yang mendapatkan hadits dari buku-buku? Sebenarnya, masalah ini sudah dibahas oleh para ulama sejak dahulu.

Mereka semua sepakat bahwa meletakkan tangan ketika shalat itu hukumnya sunnah, artinya shalat seseorang tetap sah walaupun tidak melakukan hal ini. Justru salah satu kelemahan membaca cara shalat Nabi langsung dari hadits-hadits; sebagaimana buku sifat shalat Nabi adalah tidak adanya keterangan yang cukup gamblang ketika menjelaskan macam-macam perbuatan Nabi ketika shalat. Manakah yang termasuk rukun, mana wajib dan mana sunnah. Ini berimbas pada kerancuan pemahaman sehingga menganggap shalat Nabi yang ada hanya seperti itu, tidak boleh dikurang ataupun ditambah. Tidak sesuai itu, artinya menyelisihi ‘sunnah’. Menyelisihi sunnah berarti shalatnya tidak sah. Padahal sifat shalat yang telah ditulis oleh para ulama, itulah sifat shalat Nabi.

“Mayoritas ulama fiqih menyatakan bahwa sunnahnya adalah bersedekap ketika shalat. Dalam satu riwayat dari Imam Malik itu, sunnahnya tidak bersedekap. Terkait dimana bersedekapnya, dalam Madzhab Hanafi dan satu riwayat dari Imam Ahmad dikatakan bahwa sedekapnya adalah dibawah pusar. Sedangkan dalam Madzhab Syafi’i dan satu riwayat dari Imam Malik bahwa sedekapnya adalah diatara dada dan pusar. Riwayat lain dari Imam Ahmad menyatakan bahwa, kita boleh memilih diantara keduanya” terang salah seorang ustadz “Ustadz, kenapa kita tidak shalat sebagaimana Nabi shalat saja?” tanya salah satu jamaah. “Maksudnya?” Selidik sang ustadz. “Saya membaca di salah satu buku sifat shalat Nabi, katanya Nabi itu kalo shalat meletakkan tangannya diatas dada, haditsnya shahih. Jadi kita mengikuti Nabi, tidak taklid kepada ulama, ustadz. Dan shalatnya bisa sama” Memang salah satu tantangan menyampaikan fiqih lintas madzhab adalah dituduh taklid, plin-plan serta sering menyebabkan perpecahan ummat.

Posisi Tangan Saat Berdiri Shalat – Untuk sobat BagiBuku dimana saja berada yang ingin memiliki buku ini dalam bentuk file pdf bisa di download dengan mudah dan cepat melalui link yang sudah kami berikan.

Posisi Tangan Saat Berdiri Shalat Link Download