0 produk di keranjang belanja Anda

Tidak ada produk di keranjang.

Kesetaraan Gender

Pengertian Gender

Secara Etimologi

Secara etimologi, kata ‘gender’ berasal dari bahasa inggris yang berarti ‘jenis kelamin’. Kata ‘gender’ dapat diartikan sebagai ‘perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dalam hal nilai dan perilaku

Secara Terminologi

Gender : “perbedaan laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial budaya, bisa diubah dan bisa dipertukarkan”.

Contoh: Perempuan mempunyai sifat lembut, lemah, emosional dan sebagainya. Laki-laki mempunyai sifat rasional, gagah, tegar dan sebagainya

Sex : “perbedaan laki-laki dan perempuan secara anatomi biologis, sudah melekat dalam diri seseorang dan tidak bisa dipertukarkan”.

Contoh: Perempuan mempunyai payudara, rahim, bisa melahirkan, menstruasi dan sebagainya sedangkan laki-laki mempunyai jakun, bisa memproduksi sperma, berkumis dan sebagainya.

Pengertian Ketidak Adilan Gender

ilustrasi : ketidak adilan gender

Ketidakadilan dan diskriminasi gender merupakan kondisi kesenjangan dan ketimpangan atau tidak adil akibat dari sistem dan struktur sosial dimana baik perempuan maupun laki-laki menjadi korban dari sistem tersebut. Ketidakadilan gender terjadi karena adanya keyakinan dan pembenaran yang ditanamkan sepanjang peradaban manusia dalam berbergai bentuk yang bukan hanya menimpa perempuan saja tetapi juga dialami oleh laki-laki.

Munculnya ketidak adilan gender mengakibatkan adanya budaya patriarki yaitu sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti dalam sebuah lembaga sosial, seperti keluarga.

Bentuk-bentuk Manifestasi Ketidak Adilan Akibat Diskriminasi Gender

1. Marjinalisasi atau Peminggiran Perempuan

Marjinalisasi adalah proses pemiskinan yang merupakan proses, sikap, perilaku masyarakat, maupun kebijakan negara yang berakibat pada penyisihan/ pemiskinan bagi perempuan atau laki-laki.

Contoh: Banyak pekerja perempuan kurang dipromosikan menjadi kepala cabang atau kepala bagian dalam posisi birokrat. Begitu pula politisi perempuan kurang mendapat porsi dan pengakuan yang sama dibandingkan dengan politisi laki-laki.

2. Sub-ordinasi

Proses sub-ordinasi adalah suatu keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibandingkan jenis kelamin lainnya, sehingga ada jenis kelamin yang merasa dinomorduakan atau kurang didengarkan suaranya, bahkan cenderung dieksploitasi tenaganya.

Sudah sejak dahulu ada pandangan yang menempatkan kedudukan dan peran perempuan lebih rendah dari pada laki-laki. Banyak kasus dalam tradisi, tafsir keagamaan maupun dalam aturan birokrasi yang meletakkan kaum perempuan pada tatanan sub-ordinat.

Contoh: Banyak pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan perempuan seperti ”guru taman kanak-kanak”, ”sekretaris”, atau ”perawat”, yang dinilai lebih rendah dibanding dengan pekerjaan laki-laki seperti direktur, dosen di perguruan tinggi, dokter dan tentara. Hal tersebut berpengaruh pada pembedaan gaji yang diterima oleh perempuan.

3. Pandangan Stereotype

Strereotype adalah suatu pelabelan atau penandaan yang sering kali bersifat negatif secara umum terhadap salah satu jenis kelamin tertentu.

Stereotype selalu melahirkan ketidakadilan dan diskriminasi yang bersumber dari pandangan gender. maka ketika perempuan berada di ruang publik maka jenis pekerjaan, profesi atau kegiatan di masyarakat bahkan di tingkat pemerintahan dan negara hanyalah merupakan ”perpanjangan” dari peran domestiknya. Misalnya karena perempuan dianggap pandai merayu maka ia dianggap lebih pas bekerja di bagian penjualan.

4. Kekerasan (Violence)

Kekerasan atau violence adalah suatu serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologi seseorang. Oleh karena itu kekerasan tidak hanya menyangkut serangan fisik saja seperti perkosaan, pemukulan, dan penyiksaan, tetapi juga yang bersifat non fisik seperti pelecahan seksual, ancaman dan paksaan sehingga secara emosional perempuan atau laki-laki yang mengalaminya akan merasa terusik batinnya.

Pelaku kekerasan yang bersumber karena gender ini bermacam-macam. Ada yang bersifat individual seperti di dalam rumahtangga sendiri maupun ditempat umum dan juga di dalam masyarakat dan negara.

Berbagai kekerasan terhadap perempuan terjadi sebagai akibat dari perbedaan peran gender yang tidak seimbang.

5. Beban Kerja (Double Burden)

Beban kerja adalah peran dan tanggung jawab seseorang dalam melakukan berbagai jenis kegiatan sehari-hari.

Beban kerja ganda yang sangat memberatkan seseorang adalah sebagai suatu bentuk diskriminasi dan ketidakadilan gender. Dalam suatu rumahtangga pada umumnya, beberapa jenis kegiatan dilakukan oleh lakilaki, dan beberapa yang lain dilakukan oleh perempuan.

Berbagai observasi menunjukkan perempuan mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan dalam rumahtangga, sehingga bagi mereka yang bekerja di luar rumah, selain bekerja di wilayah publik mereka juga masih harus mengerjakan pekerjaan domestik. Dengan demikian perempuan melakukan beban ganda yang memberatkan (double burden).

Konsep Kesetaraan dan Keadilan Gender

ilustrasi : konsep kesetraan dan keadilan gender

Kesetaraan dan keadilan gender adalah suatu kondisi dimana porsi dan siklus sosial perempuan dan laki-laki setara, serasi, seimbang dan harmonis. Kondisi ini dapat terwujud apabila terdapat perlakuan adil antara perempuan dan laki-laki.

Wujud Kesetaraan dan Keadilan Gender

a. Akses: Kesempatan yang sama bagi perempuan dan laki-laki pada sumberdaya pembangunan.

b. Partisipasi: Perempuan dan laki-laki berpartisipasi yang sama dalam proses pengambilan keputusan.

c. Kontrol: perempuan dan laki-laki mempunyai kekuasaan yang sama pada sumberdaya pembangunan.

d. Manfaat: pembangunan harus mempunyai manfaat yang sama bagi perempuan dan laki-laki.