0 produk di keranjang belanja Anda

Tidak ada produk di keranjang.

Fiqih Shalat Gerhana Matahari – Isnan Ansory, Lc., M.Ag.

Fiqih Shalat Gerhana Matahari Sobat BagiBuku, pada kesempatan ini kami akan memberikan buku-buku Shalat yang menarik dan buku yang banyak di cari. Pengertian shalat dari bahasa Arab As-sholah, sholat menurut Bahasa / Etimologi berarti Do‟a dan secara terminology/istilah, para ahli fiqh mengartikan secara lahir dan hakiki.

Segala puji benar-benar hanya bagi Allah. Kita memuji-Nya. Memohon-mohon pertolongan pada-Nya. Meminta petunjuk-Nya. Mengharapkan ampunan-Nya. Kita berlindung dengan-Nya dari segala keburukan diri kita dan dari kemaksiatan amal-amal kita. Siapa yang mendapatkan petunjuk- Nya, tidak akan ada yang menyesatkannya. Siapa yang disesatkan-Nya, tidak akan ada yang mampu menunjukinya. Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah curahkan kepada sang penyampai syariat, nabi besar Muhammad. Begitu juga kepada para keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Wa ba’du,

Istilah gerhana dalam bahasa arab sering disebut dengan istilah khusuf dan juga kusuf sekaligus. Namun masyhur juga di kalangan ulama penggunaan istilah khusuf –dengan huruf kho’ – untuk gerhana bulan dan kusuf –dengan huruf kaf-untuk gerhana matahari. Adapun shalat yang dilakukan atas sebab gejal alam ini, para ulama menyebutnya dengan shalat khusuf atau shalat kusuf. Di mana mereka mendefinisikannya sebagaimana berikut: “Shalat yang dilakukan dengan cara khusus, pada saat terjadi gerhana matahari atau bulan, secara sempurna atau sebagian saja”.

Dalam hadits-haditsnya seputar peristiwa gerhana, Rasulullah saw memerintahkan setidaknya 3 jenis ibadah untuk dilakukan. Yaitu ibadah shalat, zikir, dan shadaqah. Para ulama sepakat bahwa tidak disyariatkan adzan dan iqomah dalam rangkaian pelaksanaan shalat gerhana. Namun yang disunnahkan adalah menyeru jamaah untuk melakukan shalat dengan seruan, “ash-shalatu jaami’ah.”

Para ulama sepakat bahwa shalat gerhana dilakukan dengan jumlah dua raka’at secara berjama’ah. Namun para ulama berbeda pendapat terkait tata cara pelaksanaan shalat gerhana 2 raka’at ini. Di mana kalangan al-Hanafiyyah berpendapat bahwa tata caranya adalah sama sebagaimana shalat-shalat sunnah lainnya. Sedangkan mayoritas ulama berpendapat bahwa tata cara shalat gerhana bersifat khusus dan berbeda dengan shalat sunnah lainnya. Di mana dalam pelaksanaan 2 rakaat tersebut, masing-masing raka’at terdiri dari 2 kali qira’ah, 2 kali qiyam, 2 kali rukuk dan 2 kali sujud.

Dalam hal ini, yang membedakan shalat gerhana dengan shalat sunnah lainnya adalah pada praktik 2 qira’ah, 2 qiyam dan 2 rukuk. Rinciannya sebagaimana berikut:

1. Niat shalat gerhana dan takbiratul ihram. 2. Membaca iftitah, ta’awwudz, al-Fatihah dan ayat. 3. Rukuk dengan memperbanyak tasbih. 4. Berdiri lagi dengan membaca tasmi’ dan tahmid. Lalu membaca al-Fatihah dan ayat. 5. Rukuk yang kedua dengan memperbanyak tasbih. 6. Berdiri lagi untuk membaca tasmi’ dan tahmid. 7. Sujud dua kali dengan melakukan duduk antara dua sujud sebagaimana pada umumnya praktik shalat. 8. Lalu melakukan rakaat kedua dengan tata cara yang sama dengan rakaat pertama sekaligus menutupnya dengan tahiyyat dan salam.

Fiqih Shalat Gerhana Matahari – Untuk sobat BagiBuku dimana saja berada yang ingin memiliki buku ini dalam bentuk file pdf bisa di download dengan mudah dan cepat melalui link yang sudah kami berikan.

Fiqih Shalat Gerhana Matahari Link Download