0 produk di keranjang belanja Anda

Tidak ada produk di keranjang.

Dilarang Tapi Sah – Isnan Ansory, Lc., MA

Dilarang Tapi Sah Sobat BagiBuku, pada kesempatan ini kami akan memberikan buku-buku Ushul Fiqih yang menarik dan buku yang banyak di cari. Kata ushul fiqh adalah kata ganda yang terdiri dari kata “ushul” dan kata “fiqh”. Secara etimologi berarti “paham yang mendalam” kata ini muncul sebanyak 20 kali dalam Al-qur’an dengan arti pahan itu.

Segala puji benar-benar hanya bagi Allah. Kita memuji-Nya. Memohon-mohon pertolongan padaNya. Meminta petunjuk-Nya. Mengharapkan ampunan-Nya. Kita berlindung dengan-Nya dari segala keburukan diri kita dan dari kemaksiatan amal-amal kita. Siapa yang mendapatkan petunjukNya, tidak akan ada yang menyesatkannya. Siapa yang disesatkan-Nya, tidak akan ada yang mampu menunjukinya. Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah curahkan kepada sang penyampai syariat, nabi besar Muhammad. Begitu juga kepada para keluarga, shahabat dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Wa ba’du.

Dilarang tapi sah!. Apa yang dimaksud dengan ungkapan ini? Apakah ada, suatu perbuatan yang dilarang oleh syariat, namun tetap terhitung sah?. Lalu apa yang dimaksud dengan perbuatan yang dilarang namun tetap dinilai sah?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan diuraikan dalam buku kecil ini, berserta contoh-contoh kasus fiqih yang terkait. Di mana ada perbuatan yang dilarang, namun tetap dinilai sah secara syar’iy. Namun sebelum masuk kepada contoh-contoh kasus tersebut, setidaknya perlu dipahami beberapa kaidah dalam ilmu Ushul Fiqih, yang terkait dengan pembahasan ini.

Kaidah-kaidah tersebut di antaranya: 1. Pembagian hukum syariah antara hukum taklifi dan hukum wadh’iy. 2. Perbedaan antara hukum bathil dan hukum fasid. 3. Pembagian sifat hukum antara hukum qodho’iy dan hukum diyaniy. 4. Kaidah: al-Amru bi asy-syai’i nahyun ‘an dhiddihi. 5. Kaidah: an-nahyu al-muthlaq yaqtadhi attahrim. 6. Kaidah: an-Nahyu al-muthlaq yaqtadhi fasad al- 7 manhiy ‘anhu.

Hukum Taklifi Vs Hukum Wadh’i

Para ulama umumnya sepakat untuk membedakan hukum syariah menjadi dua jenis; hukum taklifi dan hukum wadh’i. Di mana kedua jenis hukum tersebut, disimpulkan dari definisi hukum syariah berikut ini: “Khithab (doktrin/titah) dari Allah yang terkait dengan perbuatan manusia (mukallaf), apakah berupa tuntutan (perintah dan larangan), pilihan (takhyir), atau wadh’i (menetapkan sesuatu berdasarkan faktor lain)”.

Maksud dari khithab Allah di sini adalah ketentuan Allah swt yang diwahyukan kepada Nabi-Nya, Muhammad saw, yaitu al-Qur’an dan Sunnah. Sedangkan maksud dari perbuatan mukallaf adalah perbuatan manusia yang telah memenuhi syarat sebagai mukallaf, di mana setiap perbuatan mereka terikat dengan hukum-hukum Allah swt. Seperti hukum wajib, mandub, haram, makruh, dan mubah. Begitu pula perbuatan mukallaf yang dapat menjadi sebab lahirnya hukum tertentu seperti membunuh yang menjadi sebab terhalanginya hak waris. Atau wudhu/suci dari hadats yang menjadi syarat sahnya shalat.

Hukum taklifi sendiri didefinisikan sebagai hukum yang berlandaskan khithab (doktrin) syaari’ (Allah) yang terkait dengan perbuatan mukallaf, baik berupa tuntutan (perintah, larangan), atau berupa takhyir (pilihan). Dari definisi ini, mayoritas ulama kemudian membedakan hukum taklifi menjadi 5 hukum; wajib, mandub, haram, makruh, dan mubah. Sedangkan ulama al-Hanafiyyah membedakannya menjadi 7 hukum; fardhu, wajib, mandub, haram, makruh tahrimi, makruh tanzihi, dan mubah.

Dilarang Tapi Sah – Untuk sobat BagiBuku dimana saja berada yang ingin memiliki buku ini dalam bentuk file pdf bisa di download dengan mudah dan cepat melalui link yang sudah kami berikan.

Dilarang Tapi Sah Link Download